Sabtu, 22 Februari 2014
Kamis, 20 Desember 2007
Jejak yang Tertinggal
By kristal (ini nama samaran....aslinya silakan ditebak sendiri...hehehe)
Kupandangi dinding panjat yang menjulang di hadapanku. Dialah saksi segaris perjalanan hidup yang baru saja kutinggalkan. Bisakah aku sekokoh dinding di hadapanku ini setelah semuanya terjadi?
Uffff! Kuhela napas panjang, kulayangkan pandanganku di sekeliling. Sepi sekali arena di sekitar dinding panjat ini. Tak satu mahasiswa pun yang memanjat dinding atau sekadar nongkrong di bawahnya sambil ngobrol. Kesunyian ini menelusup dalam sanubariku. Bulu kudukku merinding. Aku merasa ada sesuatu yang tengah mengamatiku. Ahh! Kuusir perasaan aneh ini. Aku ingin tinggal di sini sejenak. Seperti ada yang menahanku di sini.
Dinding panjat ini tempat base camp-nya anak-anak kampus yang gemar memanjat dinding. Biasanya, mereka berkumpul di bawah dinding sembari menunggu jam kuliah berikutnya.
Aku juga salah satu yang gemar berkumpul di arena dinding panjat ini. Apalagi waktu itu aku tergabung dalam kepanitiaan pendirian dinding panjat. Dapat dibayangkan bagaimana kesibukanku sebagai aktifis pecinta alam di kampus. Tak jarang kuliah aku tinggalkan demi mengurusi ini itu. Satu hal yang tidak disuka ayahku.
“Jika dengar kamu naik-naik gunung lagi, Ayah akan keluarkan kau dari kampus ini,” ancam ayah dengan keras.
Aku hanya diam, tak berani menjawab. Ayah memang membenci hobi yang sudah aku lakoni sejak SMA. Menurutnya, tak pantas seorang perempuan keluyuran di hutan dan gunung.
Meski ayah melarang keras, aku tetap menekuni. Tentu saja dengan sembunyi-sembunyi. Rahasia ini aku simpan hingga aku tercatat sebagai salah satu mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Solo. Jarak rumah yang jauh mengharuskan aku kos dan aman dari pengawasan Ayahku.
Namun, ternyata ada seseorang yang tidak suka dengan caraku membohongi ayah. Jon, laki-laki bertampang dingin, seniorku di mapala. Setiap kali aku merencanakan kebohongan terhadap ayahku agar bisa naik gunung, dia selalu berkomentar sinis.
“Dasar pengecut!” ejeknya. “Toh, kamu sudah dewasa dan bisa menjelaskan bahwa kegiatan alam ini positif. Jika kamu selalu sembunyi seperti ini, sampai kapan pun ayahmu tetap menganggapmu salah,” lanjutnya dengan sinis.
Lalu, terjadilah percekcokkan mulut antara aku dan dia. Aku memberi alasan dan dia selalu menyangkalnya. Aku benci laki-laki ini. Selalu meremehkan aku. Bahkan untuk urusan dengan ayahku yang tak dia kenal. Dia pikir gampang menghadapi ayah yang keras.
“Kenapa sih kamu selalu ikut campur dengan urusan pribadiku. Aku mau bohong kek atau jujur, itu semua urusanku. Nggak ada hubungannya denganmu,” bentakku pada laki-laki yang menatapku dengan tajam.
Beberapa detik aku ngeri pada tatapannya. Segera aku melengos, mengalihkan dari pandangannya.
Kebencianku terhadap Jon sudah bersarang lama. Sejak pertama kali berkenalan aku sudah tidak suka dengan gayanya. Acuh, bicaranya kasar, dan selalu merasa benar. Aku dibuatnya merasa kecil di hadapannya. Segala hal yang aku kerjakan, selalu salah di matanya. Entah saat aku mengurusi dokumen-dokumen kegiatan mapala, ataupun sedang melakukan aktivitas pecinta alam. Komentar-komentarnya selalu bikin kupingku panas.
“Bodoh! Condongkan tubuhmu ke depan, mepet dinding panjatnya, biar keseimbangan terjaga. Kenapa sih harus selalu diingatkan?” hardiknya ketika tubuhku oleng saat latihan memanjat.
Meskipun peringatannya memang benar, tapi caranya itu loh yang bikin aku kesal. Laki-laki satu ini kelihatannya memang tidak bisa berkata lebih sopan. Selalu disertai bentakan dan hardikan. Ah, bertambah benci rasanya!
Pertengkaran demi pertengkaran kerap terjadi antara aku dan Jon. Tidak ada yang berani melerai percekcokkan kami, apalagi berinisiatif mendamaikan. Sudah menjadi rahasia umum bila aku dan Jon seperti tikus dan kucing.
Hingga suatu ketika sebuah kejadian merubah hubungan kami. Berubah 180 derajat. Saat itu di kampus diadakan seleksi panjat dinding. Musibah menimpaku. Tali pengaman yang melilit di pinggangku tiba-tiba terlepas. Tubuhku pun terhempas ke bawah. Aku menjerit kaget.
“Dasar bandel!” bentak Jon sambil berlari menyambarku. “Kamu tuh selalu ceroboh, kurang hati-hati! Kenapa tidak dicek tali pengamannya?! Untung ketinggianmu baru dua meter. Coba kalau lebih dari itu, kepalamu sudah pecah!”
Tiba-tiba saja sebagian tubuhku sudah ada di pangkuannya. Aku diam saja sambil meringis kesakitan. Tidak sempat membantah omelannya. Rasa sakit di kaki membuatku tak berdaya. Meski keheranan sempat melintas di otakku. Kenapa laki-laki kasar ini susah payah menolongku? Bahkan rasa-rasanya dia yang pertama kali berlari menolongku.
Lalu tiba-tiba saja peran Jon berubah. Dialah yang kemudian merawat dan membersihkan luka-lukaku. Dialah yang mengurut kakiku yang terkilir. Dialah yang mengantarkan aku ke dokter. Dialah yang selama dua minggu antar jemput ke kampus karena kakiku harus dibalut gips. Dialah yang menjelaskan kepada ayahku kenapa bisa terjadi kecelakaan. Karena dia juga ayahku tak memarahiku, justru kemudian tak lagi melarangku melakukan kegiatan alam.
Entah jurus apa yang digunakan Jon. Entah argumentasi apa yang diutarakan. Yang pasti sejak saat itu aku juga tak berdaya membantah ucapan-ucapannya yang dulu terdengar sinis. Dimana kebencianku yang dulu? Malah aku juga tidak mengerti mengapa sejak saat itu aku jadi bergantung sekali dengannya. Bahkan setelah kakiku sembuh dan bisa berjalan.
“Kamu kok sekarang malah jadi manja. Udah bisa jalan, ya nggak usah diantar jemput dong,” ejek Jon tidak lagi dengan nada sinis.
“Tapi, kamu seneng juga
“Aku sih kasihan aja ngeliat climber gagal sepertimu ini. Coba dulu patuh sama ajaranku, pasti nggak kejadian seperti ini,” timpal Jon memanas-manasi.
Begitulah kami jadinya. Tidak ada lagi pertengkaran sengit seperti dulu. Kami lebih banyak saling menyindir dan melempar ejekan, tentunya dengan nada becanda. Kadang-kadang bila aku sudah kehabisan jawaban, aku cubit lengannya sampai dia mengaduh minta ampun.
Hari-hari pun kami lewati bersama. Di mana ada aku, di situ dapat dipastikan ada Jon. Begitu sindiran teman-teman. Jon dengan gayanya yang cuek tidak pernah menanggapi lontaran teman-teman. Aku pun hanya bisa tersipu. Kami seperti tidak tahu harus menjawab dengan kalimat apa.
Aku dan Jon memang telah menjadi sepasang kekasih. Terjadi begitu saja tanpa ucapan romantis layaknya Romi dan Juliet saat menyatakan cinta. Meski kata tak terucap, tapi kami dapat mendalami perasaan yang ada.
Hari-hari kami lalui dengan penuh kehangatan. Saat aku sedang mengikuti jam kuliah, Jon dengan setia menungguiku sambil memanjat dinding. Begitu sebaliknya. Saat dia sibuk mengurus skripsinya yang tidak kelar-kelar, dengan setia aku menghiburnya. Memberikan kekuatan saat menghadapi dosen pembimbingnya yang memang terkenal killer.
Begitulah kami jadinya. Aku enggan jauh darinya. Dia pun selalu berusaha berada di dekatku. Hingga suatu ketika badai menerpa hubungan kami. Semuanya berawal dari jarak yang memisahkan. Jon harus bertugas menjadi tim SAR mencari para pendaki yang tersesat di Gunung Semeru. Aku tidak ikut dalam rombongan karena harus menyelesaikan Kuliah Kerja Nyata dan ditempatkan di pedalaman Desa Wonogiri, Jawa Tengah. Jadi terpisahlah aku dari Jon.
“Sudahlah, kita sama-sama memiliki tugas. Jangan terlalu memanjakan perasaan. Kamu harus tetap menjadi Diniku yang tabah, dulu dan sampai kapan pun,” hibur Jon membesarkan hatiku.
“Tapi rasanya lama sekali? Dua bulan bukan waktu yang singkat, Jon. Apa pun bisa terjadi dan aku tak mau sesuatu yang buruk menimpa dirimu. Kamu bisa mengundurkan diri,
“Hei sejak kapan kamu menjadi egois? Menjadi anggota mapala harus siap dengan segala risiko. Itu pilihan kita
Lalu, digenggamnya tanganku. Kehangatan yang menjalar ke tubuhku perlahan meluruhkan kekhawatiranku.
Akhirnya, dengan setengah hati kulepas kepergiannya. Aku pun segera menuju desa di ujung selatan Wonogiri, di mana aku ditugaskan. Aku sibuk dengan segala aktivitas KKN bersama mahasiswa lainnya. Berbaur dengan penduduk desa dan tinggal di pemukiman yang jauh dari perkotaan. Tak ada listrik, tak ada telepon, bahkan tak ada sinyal handphone. Aku pun tidak bisa berkomunikasi dengan Jon.
Aku hanya bisa menyimpan setiap kerinduan yang datang menyergapku. Mengumpulkannya untuk kemudian kupersembahkan pada laki-laki yang selalu ada di hatiku.
***
Hingga suatu hari di tengah terik matahari yang panas.
“Kamu harus kembali ke Solo. Jon mengalami kecelakaan dan sekarang dirawat di rumah sakit. Kondisinya cukup buruk.” Ray, teman mapalaku datang membawa kabar yang mengejutkanku.
Aku terdiam, syok. Hatiku tergoncang hingga tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Aku juga masih tetap membisu ketika Ray membimbingku masuk mobil menuju ke rumah sakit tempat Jon dirawat.
Aku tak menyadari perjalanan yang kutempuh. Tiba-tiba saja langkahku terhenti di depan tubuh yang terbujur di ranjang tempat tidur. Kedua kaki dan tangannya dibalut perban putih. Bekas bercak darah masih terlihat di beberapa bagian tubuhnya. Mata yang biasa menatap tajam ke arahku kini terkatup rapat. Tak bergeming.
Air mata berjatuhan di pipiku. Aku biarkan. Aku tak ingin menyekanya. Aku hanya ingin memandangi wajah yang sudah lama tak kusentuh. Aku hanya ingin di dekatnya. Menungguinya hingga mata tajam itu kembali menatapku. Menungguinya hingga bibir itu berucap rindu padaku. Aku di sini, Jon! Jeritku dalam hati.
“Saat mengambil tubuh pendaki yang terjatuh di jurang, Jon tergelincir karena hujan cukup deras. Semua pendaki yang tersesat selamat, tapi Jon malah yang gantian kecelakaan,” terang Ray membuyarkan pandanganku yang sudah mulai buram oleh air mata.
“Sekarang dia masih koma. Kita berdoa saja,” ajak Ray sambil menepuk pundakku seolah memberi kekuatan. Pendarahan hebat di otak Jon membuat syaraf-syaraf tubuhnya tidak bisa berfungsi.
Hanya Tuhan yang bisa membangunkan tubuh kekasihku kini. Aku pun segera menuju ke musala bersimpuh di hadapan-Nya. Sebab, aku belum ingin kehilangan kekasihku. Cinta kami masih kuat. Belum puas rasanya melewati kebersamaan itu.
Beri aku kesempatan membahagiakannya, Tuhan! Dan seribu pinta pun aku panjatkan. Aku yakin Tuhan mendengar.
“Din, orang tua Jon datang dari
Kuhampiri seorang wanita yang tengah duduk di sofa.
“Oh, kamu yang namanya Dini. Jon sudah cerita banyak tentang kamu,” tegur mamanya Jon saat berkenalan denganku. Kesedihan di wajahnya tidak bisa menyembunyikan gurat kecantikan pada parasnya. Garis wajahnya mirip sekali dengan Jon.
“Iya, Tante,” ucapku sambil menjabat kedua tangannya yang lembut.
“Jon selalu kurang perhitungan, termasuk keselamatannya sendiri. Memang sih menolong itu adalah kebaikan, tapi bagaimana bila akhirnya justru mencelakakan dia,” katanya dengan nada penyesalan.
Aku hanya diam tak berani menjawab. Aku mengerti perasaan mamanya Jon. Ibu mana yang tidak kalut hatinya bila keselamatan anak kesayangannya terancam. Jauh-jauh dia datang dari
“Tante yang tabah ya. Mungkin ini cobaan dari Tuhan,” kata-kata menghibur keluar dari mulutku. Padahal hatiku sendiri sedang hancur.
Semalaman aku menemani mamanya Jon di rumah sakit. Kami memiliki harapan yang sama. Jon bangun dari komanya dan menemukan kami yang sedang menungguinya. Namun hingga pagi menjelang Jon masih tertidur. Juga esoknya dan esoknya lagi. Hatiku kalut dan entah sudah berapa kali air mataku tumpah.
Kesedihanku semakin bertambah tatkala mamanya Jon mengabarkan sesuatu.
“Dini, tante akan membawa Jon ke Singapura. Siapa tahu di
“
“Tante senang kamu mencintai Jon. Tapi apakah kalian sudah memikirkan kelanjutan hubungan kalian. Apalagi sebentar lagi Jon lulus kuliah. Maaf ya, kelihatannya kalian tidak mempertimbangkan perbedaan kalian. Padahal menurut tante ini adalah masalah yang prinsip,” tutur mamanya Jon.
“Maksud Tante…?” tanyaku tak mengerti.
“Kami sekeluarga menginginkan Jon mendapatkan jodoh yang seiman,” terangnya lembut, singkat tapi terdengar tegas di telingaku.
Aku tidak tahu harus berkata apa lagi.
“Tante mengerti hubungan kalian tidak main-main. Justru itu, tante harus bertindak sebelum semuanya terlalu jauh. Kalian juga harus terima kenyataan bahwa kalian tidak mungkin bersatu,” lanjut mamanya Jon segera.
“Jadi Tante menginginkan kami berpisah? Tapi Jon belum juga bangun, Tante. Apakah tidak lebih baik kita bicarakan setelah Jon sembuh,” sambarku meminta satu kesempatan. Aku yakin jika Jon sadar pasti dia akan menentang larangan mamanya. Aku hafal betul watak Jon yang keras dengan pendiriannya. Dan aku yakin sekali Jon tidak akan menyerah memperjuangkan cinta kami.
“Justru karena Jon belum sadar maka masalah ini tante bicarakan. Tante juga tahu bagaimana perangai Jon yang keras. Jika Jon sudah di Singapura dan melanjutkan kuliahnya di
Agaknya mamanya Jon serius dengan niatnya ini dan aku tak mampu membantahnya. Ternyata, firasat tidak enak yang kurasakan terbukti.
Kutatap dengan sedih tubuh kekasihku yang masih diam tak bergerak. Aku berharap dia bangun dan menentang keinganan mamanya. Tapi Jon tetap tertidur dan aku hanya bisa menangis lagi. Aku masih berharap untuk melihat dia tersadar, meski untuk yang terakhir kalinya.
Sebelah hatiku terbang bersama kepergian Jon. Selama ini aku dan Jon tidak menyadari bahwa kami memiliki perbedaan. Lebih tepatnya kami tidak menganggap perbedaan di antara kami menjadi penghalang cinta kami. Aku dan Jon tidak pernah mempermasalahkan itu.
Ternyata takdir menunjukkan jalannya. Kami pun harus berpisah, tanpa sempat berkata-kata. Jon terbang ke Singapura, aku pun kembali di desa menyelesaikan tugas KKN-ku.
Jangan ditanya bagaimana perasaanku. Hampir tiap malam kuhabiskan dengan menangis. Siang hari kularikan kesedihanku dengan berbagai kesibukan dengan penduduk desa. Satu bulan terasa lama sekali. Aku ingin segera kembali ke Solo, mencari kabar tentang Jon.
***
Kini, aku sudah berdiri di sini, memandangi dinding panjat yang menjadi saksi pertemuanku dengan Jon. Satu bulan yang telah berlalu ternyata tak mampu menghapuskan kerinduanku kepada Jon. Jon, dimanakah kamu sekarang? Tahukah kamu, aku sudah menyelesaikan KKN-ku. Aku akan kuliah lagi, tapi tanpa kamu yang setia menungguku, tanpa kamu yang siap mendampingiku kemana kupergi. Ah, pasti sepi rasanya kampus ini.
“Kamu tak usah ragu-ragu melangkah. Jadilah perempuan yang kuat,” sebuah suara membuyarkan lamunanku. Suara yang tidak asing di telingaku. Buru-buru kuputar tubuhku dan betapa kagetnya aku melihat sosok di hadapanku.
“Jooonnn …,” jeritku tertahan.
“Dari tadi aku memperhatikan kamu. Sengaja kubiarkan karena aku tidak mau mengganggu lamunanmu,” jelas laki-laki dengan tatapannya yang lembut. Aku juga menangkap semburat kosong pada tatapannya. Sedihkan dia?
“Apa kabar?” tanyanya hangat seolah tidak pernah terjadi sesuatu di antara kami.
“Seperti yang kau lihat. Bagaimana keadaanmu? Mengapa tidak pernah memberiku kabar, Jon?” tanyaku bergetar. Sungguh aku tidak menyangka pertemuan ini.
Aku belum mampu mengendalikan perasaanku. Aku benar-benar terkejut dia hadir di hadapanku. Aku benar-benar tak menyangkanya. Bagaimana Jon bisa tiba-tiba ada di hadapanku?
“Kau baru pulang dari desa,
“Aku sengaja ke kampus dulu karena ingin mencari kabar tentangmu. Tapi ternyata di kampus sepi, tidak ada satu pun anak-anak kampus. Kapan kau tiba di Solo? Mengapa tidak pernah mengirim kabar? Mengapa kamu tidak pernah memberi penjelasan tentang kepergianmu? Atau setidaknya mengapa kamu tidak mengirimkan sebaris kalimat perpisahan? Apakah hubungan yang pernah kita jalani tidak ada artinya? Apakah …,” suaraku tertahan oleh sesak napas menahan tangis.
Aku ingin ungkapkan semua yang ada di dada. Namun, tak mampu aku meneruskan kalimatku. Tangisku pecah. Kesedihanku yang selama ini kupendam seolah tumpah di hadapannya. Antara sedih, kecewa, dan bahagia karena aku bisa melihat sosok yang selalu melekat di hatiku.
Aku terduduk berlutut. Kubenamkan wajahku dalam dua tanganku. Aku tak mampu menatap laki-laki di hadapanku. Usapan lembut tangan Jon tidak juga meredakan tangisku. Justru semakin membuat dadaku terguncang. Aku masih ingat usapan lembut penuh kasih ini. Mengapa masih seperti dulu?
“Din, jangan bersedih. Kamu dan aku sudah menemukan jalan hidup sendiri-sendiri. Aku akan bahagia bila melihat kamu bahagia. Tidak usah disesali apa yang sudah terjadi di antara kita. Semua sudah takdir. Bukan keinginan kita,
“Tapi, kenapa kamu tidak pernah menghubungi aku?” kuulang satu pertanyaanku. Kutatap wajahnya yang kini berada di depan wajahku.
“Situasinya tidak memungkinkan. Tidak ada yang salah di antara kita,” ujarnya sambil membimbingku duduk di bangku.
“Tapi ….”
“Husss … sudahlah!” ujar Jon sambil meletakkan jari telunjuknya di bibirku. “Lebih baik kita tidak lagi membicarakan peristiwa lalu. Hanya akan menimbulkan rasa penyesalan. Mendingan kita bicarakan yang lain. Misalnya tentang pengalaman KKN-mu,” ucap Jon sambil tersenyum.
Jon, masih seperti dulu. Tenang dan bersahaja. Berada di sampingnya, seolah mendapatkan ketenangan di hati. Aku seolah lupa dengan peristiwa yang membuat aku dan Jon berpisah. Aku sibuk bercerita tentang kegiatan-kegiatan selama di desa. Begitu juga Jon dengan pengalamannya menyelamatkan pecinta alam yang tersesat. Aku yang lebih banyak bercerita, Jon lebih banyak mendengarkan. Seperti dulu.
“Aku ke sini untuk menuntaskan sisa perasaanku yang masih tersimpan. Tentang kita. Aku tidak mau terbelenggu oleh kenangan kita. Aku ingin memulai babak baru dalam hidupku jika memang cinta ini tidak bisa diteruskan,” ungkapku merasa bersalah.
“Kau tidak perlu merasa tidak enak hati begitu. Kita memiliki jalan hidup sendiri-sendiri. Kamu tetap di hatiku kok, meski dunia kita berbeda …,” lerai Jon yang setengah tak kumengerti.
Aku hanya diam. Tak mampu lagi berkata. Bibirku seolah terkunci oleh rasa yang berkecamuk di hatiku. Oh andaikan saja …
“Din, sudah hampir malam, sebaiknya kau kuantar,” Jon membuyarkan pikiranku.
Kami pun beranjak meninggalkan pelataran dinding panjat yang menjadi saksi bisu pertemuan kami. Di sinilah aku menemukan cinta pertamaku dan di sini pula aku harus melepaskannya.
Jon hanya diam membiarkanku mematung sejenak. Lalu, digenggamnya tanganku sambil membimbingku pergi. Tangan itu masih tetap kokoh, hanya tidak sehangat dulu, terasa dingin …
Sesampainya di pintu rumah kosku, Jon langsung berpamitan. Dia hanya mengucapkan sebuah kalimat, tapi aku menangkapnya sebagai sebuah pesan.
“Jaga dirimu baik-baik. Aku suka kamu apadanya. Jika kamu ingin mengingat masa-masa indah yang telah kita lewati, datanglah ke dinding panjat, aku bisa melihatmu. Tapi lupakan aku, seperti aku sudah tidak ada lagi,” ucapnya sebelum pergi meninggalkanku.
“Tapi Jon, kita akan bertemu lagi
Jon hanya tersenyum dan berbalik meneruskan langkahnya. Kupandangi punggung laki-laki yang kucintai itu hingga menghilang di tikungan jalan.
***
Suara ketukan pintu membangunkan aku yang masih terlelap dalam tidur. Setelah perjumpaanku dengan Jon, serasa ada kelegaan dalam relung hatiku. Tidurku tidak lagi dihantui oleh rasa penasaran tentang keberadaan Jon.
Kuseret langkahku menuju pintu.
“Mbak Din bangun dong!” teriak Arlin.
Di balik pintu aku melihat sosok gadis cantik tersenyum riang.
“Pulang dari desa bukannya cerita dulu pengalaman di
Aku dan Arlin memang berkawan dekat. Selain satu kos, kami juga satu kampus. Kami beda satu tingkat. Seperti diriku, Arlin juga menyukai kegiatan alam. Dia sering kali menjadi tempatku mencurahkan isi hatiku. Termasuk kisah cintaku dengan Jon.
“Kemarin aku langsung ke kampus. Aku ke dinding panjat,” ucapku lirih.
Alis Arlin yang hitam lebat langsung berkernyit.
“Ngapain, Mbak? Di
Aku hanya tersenyum sambil mengangguk.
“Aku bernostalgia di dinding panjat. Dan kau tahu apa yang kutemukan di
“Aku bertemu dengan Jon. Akhirnya, kerinduanku dan segala perasaan yang menggangguku selama ini terbalas sudah. Memang sih kita nggak mungkin bersatu, tapi setidaknya ada pertemuan sebelum kita berpisah. Besok dia balik ke Singapura,” tuturku mengisahkan pertemuanku dengan Jon.
“Tapi, Mbak …,” ucap Arlin yang buru-buru aku potong.
“Jon masih seperti dulu ya. Seperti yang ada di bayanganku selama ini. Kami ngobrol banyak. Tadi malam dia nganterin sampai pintu kamar. Dia minta aku untuk melupakan dia. Katanya, anggap seperti dia sudah tidak ada lagi,” paparku kepada Arlin yang masih bengong.
“Tunggu … tunggu … Tadi malam Mbak Din ketemu dan berbincang dengan Jon. Tapi itu tidak mungkin, Mbak! Atau Mbak Din cuma mimpi kali!” Arlin bangun dari tempat tidur dan menghampiriku.
“Suer, ngapain bohong,” tandasku sambil mengacungkan kedua jariku untuk meyakinkan Arlin.
“Mbak, dua hari yang lalu aku dan teman-teman di kampus mendapat kabar dari Singapura, bahwa Jon sudah meninggal dunia. Sejak kecelakaan itu dia tidak bangun-bangun lagi. Dia sempat koma selama satu bulan. Aku menunggu Mbak Din pulang dari desa untuk menyampaikan kabar ini. Aku takut … Mbak … Mbak ….”
Suara Arlin semakin sayup dan lama-lama tidak terdengar. Tiba-tiba, kepalaku pening, sekelilingku serasa berputar-putar dan akhirnya semuanya menjadi gelap.
******
(kesamaan nama hanya kebetulan saja loh J)
Diposting oleh
jarod
di
22.24
0
komentar
Selasa, 11 Desember 2007
Ini dia anggota MFP tecantikk...shita pramika sari
nama panjang saya adalah shita pramika sari tapi cukup dipanggil dengan shita.
sebenarnya saya lahir pada tanggal 10 november 1988 dicilacap tapi karena ayah saya sangat cinta dengan kota sragen jadi akta kelahiran saya disragen namun saya dari kecil tinggal di Ciledug yaitu diperbatasan antara Jakarta dan Tangerang namun baru kali ini saya tinggal di Solo sebuah kota yang sangat berbudaya. disini saya dikost dibelakang kampus UNS. saya berzodiak Scorpio, dalam asmara saya merupakan orang yang paling setia.
saya sangat hobby hiking, mountenering, climbing, listening music, baca buku,baca koran, nonton, jalan-jalan dan masih banyak lagi.
saya sangat suka dengan hal-hal yang berbau kepecinta alam, apalagi kini Bumi kita telah rusak seharusnya kita semua menjaga agar Bumi kita tetap lestari.
meskipun saya terlihat seperti orang yang santai, humoris dsb namun terlepas dari itu semua sebenarnya saya adalah orang yang bertanggung jawab dan sangat berprinsip.
terbukti dari setiap organisasi yang saya jalani meskipun begitu padat dan banyaknya tugas dari mata kuliah dan kesibukan lainnya alhamdulilah saya tidak pernah melupakan kodrat saya sebagai manusia kepada pencipta. itu semua adalah "challenge" bagi saya.
Saya sudah terbiasa dengan kesibukan bahkan seringkali setiap liburan saya pulang kerumah yaitu di Ciledug, saya cepat bosan dirumah saking dirumah tidak ada kesibukan karena di Solo saya sudah terbiasa sibuk.
Saya adalah alumni:
- TK Puspita bunda
- SDN Larangan selatan 02
- SLTPN 11 Tangerang
- SMAN 3 Tangerang
Seumur hidup saya pernah mengikuti organisasi:
- Beksi (suatu organisasi beladiri)
- OSIS SLTPN 11 Tangerang.
- Paskibra SLTP 11 Tangerang
- Pecinta alam Columba Livia (SMAN 3 Tangerang)
- Karang Taruna rt 004/o7 lar-sel
Saya juga pernah mengikuti kursus yaitu:
- kursus bahasa inggris di New concept
- kursus bahasa inggris di Star Light
- kursus bahasa Jerman
http://shita06.blogspot.com/
Diposting oleh
jarod
di
20.28
0
komentar
Arti MAHAFISIPPA buat Andy
Memang disinilah hidupku
Aku tak pernah bisa membencimu
Hati dan pikiran tak pernah lepas darimu
Aku ingin buatmu besar
Filosofi dan jatidiri kudapat darimu
Ingin ku terbang bersamamu
Sehidup semati
Inikah takdir kita sayang?
Penuhi takdir dan mimpi bersama
Aku disampingmu...selalu
http://bonchu13.blogs.friendster.com/andys_blog_rocks/
Diposting oleh
jarod
di
20.22
0
komentar
Mahafisippa Adakan Donor Darah
Dengan tema "Donor Darah On Campus", Unit Kegiatan Mahasiswa FISIP Pencinta Alam (MAHAFISIPPA) UNS mengadakan aksi donor darah bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Surakarta pada hari Rabu, 5 September 2007, pukul 09.00 - selesai bertempat di lobby gedung 1 lantai 1 FISIP UNS.
Kegiatan ini selain merupakan salah satu program kerja rutin dari Mahafisippa, juga menggugah kepedulian civitas akademik FISIP tentang pentingnya donor darah karena setetes darah kita ibarat nyawa bagi yang membutuhkan.
Maryani
Diposting oleh
jarod
di
20.16
0
komentar
Apa itu Mahafisippa
4 Maret 1984, tepat pukul 22.00 WIB, bertempat di Deles, Klaten MAHAFISIPPA lahir.
Sebagai organisasi MAHAFISIPPA (MFP) memiliki ciri khusus yang ?tidak dimiliki oleh organisasi lain, yaitu sebuah lambang yang berbentuk Burung Elang dalam Segitiga Sama Sisi. Burung Elang, yang mempunyai makna penyebar benih-benih kehidupan, sekaligus sebagai simbol kebebasan yang daya jelajahnya jauh. Sedangkan Segitiga Sama Sisi, mencerminkan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Jadi symbol tersebut merupakan pengejawantahan dari manusia-manusia MAHAFISIPPA dalam pengabdiannya sebagai civitas akademika dan masyarakat luas pada urnumnya, dapat memberi arti positif bagi pemerhati atau siapa saja yang mengikuti perkembangan MAHAFISIPPA.
Warna Pink sebagai dasar bendera MFP mencerminkan warna FISIP. Yang berarti bahwa manusia MFP ,tidak hanya mempunyai kewajiban dan tanggung jawab kepada organisasi saja, tetapi yang tidak kalah penting adalah terhadap FISIP.
Pembentukan system keorganisasian MFP yang kuat dan khas bagi pengembangan anggota dan organisasi, menghasilkan budaya organisasi yang mengutamakan peran komunikasi informal serta menitikberatkan pencapaian target dan tujuan pada perencanaan dan proses.
Mewariskan tradisi system sel dalam interaksi internal, evaluasi-briefmg serta pendekatan informal interpersonal yang menjadi andalan organisasi, terbukti secara empiris sebagai salah satu kekuatan penentu bagi kesuksesan setiap kegiatan yang diselenggarakan hingga saat ini.
Diposting oleh
jarod
di
20.14
0
komentar
Folber, Sang Ketua MFP Periode 2000 menyapa...
Iseng, aku buka google di internet cari kata mahafisippa. Eh, ketemu blog-nya Atiek si None Blonde. Yang membuat antusias, ada foto grombolan mfp sedang mejeng (sayaada di tengah-tengahnya) dengan seragamnya barunya.
Saya kok malah lupa ya kapan tuh foto diambil, mengapa diriku ada di tengah kerumunan adik-adik tercinta itu? What ever lah, yang penting fotonya aku ambil dan aku simpan untuk dokumen pribadi.
Memang, akhir-akhir ini aku getol mengumpulkan foto-foto waktu muda dulu (cuih…kayak udah tua aja, pdhl masih 20-an tahun loh hehehe…). Ini penting, supaya kalau sudah tua (renta maksudnya) ntar, ada sesuatu yang bisa dikenang. Untuk yang satu ini, Andru si cewek Magelang sdh kukontak dan dijawab oke.
Perempuan besi ini (sebutan orang-orang sih) ternyata memiliki foto dokumentasi pribadi yang di dalamnya ada diriku juga. “Sak ndayak Bang,” tulisnya dalam jawaban di FS-ku. Itu menggambarkan betapa dia menyimpan banyak fotoku, jangan-jangan Andru salah satu penggemarku dulu?? Whuekk cuih…! (ini kata Andru kalau baca tulisan ini) Btw, thanks ya Ndru dan thanks juga Mpok Atiek! Semoga kalian cepat kawin, eh salah menikah!
Diposting oleh
jarod
di
20.03
1 komentar
Sabtu, 22 Februari 2014
Kamis, 20 Desember 2007
Jejak yang Tertinggal
By kristal (ini nama samaran....aslinya silakan ditebak sendiri...hehehe)
Kupandangi dinding panjat yang menjulang di hadapanku. Dialah saksi segaris perjalanan hidup yang baru saja kutinggalkan. Bisakah aku sekokoh dinding di hadapanku ini setelah semuanya terjadi?
Uffff! Kuhela napas panjang, kulayangkan pandanganku di sekeliling. Sepi sekali arena di sekitar dinding panjat ini. Tak satu mahasiswa pun yang memanjat dinding atau sekadar nongkrong di bawahnya sambil ngobrol. Kesunyian ini menelusup dalam sanubariku. Bulu kudukku merinding. Aku merasa ada sesuatu yang tengah mengamatiku. Ahh! Kuusir perasaan aneh ini. Aku ingin tinggal di sini sejenak. Seperti ada yang menahanku di sini.
Dinding panjat ini tempat base camp-nya anak-anak kampus yang gemar memanjat dinding. Biasanya, mereka berkumpul di bawah dinding sembari menunggu jam kuliah berikutnya.
Aku juga salah satu yang gemar berkumpul di arena dinding panjat ini. Apalagi waktu itu aku tergabung dalam kepanitiaan pendirian dinding panjat. Dapat dibayangkan bagaimana kesibukanku sebagai aktifis pecinta alam di kampus. Tak jarang kuliah aku tinggalkan demi mengurusi ini itu. Satu hal yang tidak disuka ayahku.
“Jika dengar kamu naik-naik gunung lagi, Ayah akan keluarkan kau dari kampus ini,” ancam ayah dengan keras.
Aku hanya diam, tak berani menjawab. Ayah memang membenci hobi yang sudah aku lakoni sejak SMA. Menurutnya, tak pantas seorang perempuan keluyuran di hutan dan gunung.
Meski ayah melarang keras, aku tetap menekuni. Tentu saja dengan sembunyi-sembunyi. Rahasia ini aku simpan hingga aku tercatat sebagai salah satu mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Solo. Jarak rumah yang jauh mengharuskan aku kos dan aman dari pengawasan Ayahku.
Namun, ternyata ada seseorang yang tidak suka dengan caraku membohongi ayah. Jon, laki-laki bertampang dingin, seniorku di mapala. Setiap kali aku merencanakan kebohongan terhadap ayahku agar bisa naik gunung, dia selalu berkomentar sinis.
“Dasar pengecut!” ejeknya. “Toh, kamu sudah dewasa dan bisa menjelaskan bahwa kegiatan alam ini positif. Jika kamu selalu sembunyi seperti ini, sampai kapan pun ayahmu tetap menganggapmu salah,” lanjutnya dengan sinis.
Lalu, terjadilah percekcokkan mulut antara aku dan dia. Aku memberi alasan dan dia selalu menyangkalnya. Aku benci laki-laki ini. Selalu meremehkan aku. Bahkan untuk urusan dengan ayahku yang tak dia kenal. Dia pikir gampang menghadapi ayah yang keras.
“Kenapa sih kamu selalu ikut campur dengan urusan pribadiku. Aku mau bohong kek atau jujur, itu semua urusanku. Nggak ada hubungannya denganmu,” bentakku pada laki-laki yang menatapku dengan tajam.
Beberapa detik aku ngeri pada tatapannya. Segera aku melengos, mengalihkan dari pandangannya.
Kebencianku terhadap Jon sudah bersarang lama. Sejak pertama kali berkenalan aku sudah tidak suka dengan gayanya. Acuh, bicaranya kasar, dan selalu merasa benar. Aku dibuatnya merasa kecil di hadapannya. Segala hal yang aku kerjakan, selalu salah di matanya. Entah saat aku mengurusi dokumen-dokumen kegiatan mapala, ataupun sedang melakukan aktivitas pecinta alam. Komentar-komentarnya selalu bikin kupingku panas.
“Bodoh! Condongkan tubuhmu ke depan, mepet dinding panjatnya, biar keseimbangan terjaga. Kenapa sih harus selalu diingatkan?” hardiknya ketika tubuhku oleng saat latihan memanjat.
Meskipun peringatannya memang benar, tapi caranya itu loh yang bikin aku kesal. Laki-laki satu ini kelihatannya memang tidak bisa berkata lebih sopan. Selalu disertai bentakan dan hardikan. Ah, bertambah benci rasanya!
Pertengkaran demi pertengkaran kerap terjadi antara aku dan Jon. Tidak ada yang berani melerai percekcokkan kami, apalagi berinisiatif mendamaikan. Sudah menjadi rahasia umum bila aku dan Jon seperti tikus dan kucing.
Hingga suatu ketika sebuah kejadian merubah hubungan kami. Berubah 180 derajat. Saat itu di kampus diadakan seleksi panjat dinding. Musibah menimpaku. Tali pengaman yang melilit di pinggangku tiba-tiba terlepas. Tubuhku pun terhempas ke bawah. Aku menjerit kaget.
“Dasar bandel!” bentak Jon sambil berlari menyambarku. “Kamu tuh selalu ceroboh, kurang hati-hati! Kenapa tidak dicek tali pengamannya?! Untung ketinggianmu baru dua meter. Coba kalau lebih dari itu, kepalamu sudah pecah!”
Tiba-tiba saja sebagian tubuhku sudah ada di pangkuannya. Aku diam saja sambil meringis kesakitan. Tidak sempat membantah omelannya. Rasa sakit di kaki membuatku tak berdaya. Meski keheranan sempat melintas di otakku. Kenapa laki-laki kasar ini susah payah menolongku? Bahkan rasa-rasanya dia yang pertama kali berlari menolongku.
Lalu tiba-tiba saja peran Jon berubah. Dialah yang kemudian merawat dan membersihkan luka-lukaku. Dialah yang mengurut kakiku yang terkilir. Dialah yang mengantarkan aku ke dokter. Dialah yang selama dua minggu antar jemput ke kampus karena kakiku harus dibalut gips. Dialah yang menjelaskan kepada ayahku kenapa bisa terjadi kecelakaan. Karena dia juga ayahku tak memarahiku, justru kemudian tak lagi melarangku melakukan kegiatan alam.
Entah jurus apa yang digunakan Jon. Entah argumentasi apa yang diutarakan. Yang pasti sejak saat itu aku juga tak berdaya membantah ucapan-ucapannya yang dulu terdengar sinis. Dimana kebencianku yang dulu? Malah aku juga tidak mengerti mengapa sejak saat itu aku jadi bergantung sekali dengannya. Bahkan setelah kakiku sembuh dan bisa berjalan.
“Kamu kok sekarang malah jadi manja. Udah bisa jalan, ya nggak usah diantar jemput dong,” ejek Jon tidak lagi dengan nada sinis.
“Tapi, kamu seneng juga
“Aku sih kasihan aja ngeliat climber gagal sepertimu ini. Coba dulu patuh sama ajaranku, pasti nggak kejadian seperti ini,” timpal Jon memanas-manasi.
Begitulah kami jadinya. Tidak ada lagi pertengkaran sengit seperti dulu. Kami lebih banyak saling menyindir dan melempar ejekan, tentunya dengan nada becanda. Kadang-kadang bila aku sudah kehabisan jawaban, aku cubit lengannya sampai dia mengaduh minta ampun.
Hari-hari pun kami lewati bersama. Di mana ada aku, di situ dapat dipastikan ada Jon. Begitu sindiran teman-teman. Jon dengan gayanya yang cuek tidak pernah menanggapi lontaran teman-teman. Aku pun hanya bisa tersipu. Kami seperti tidak tahu harus menjawab dengan kalimat apa.
Aku dan Jon memang telah menjadi sepasang kekasih. Terjadi begitu saja tanpa ucapan romantis layaknya Romi dan Juliet saat menyatakan cinta. Meski kata tak terucap, tapi kami dapat mendalami perasaan yang ada.
Hari-hari kami lalui dengan penuh kehangatan. Saat aku sedang mengikuti jam kuliah, Jon dengan setia menungguiku sambil memanjat dinding. Begitu sebaliknya. Saat dia sibuk mengurus skripsinya yang tidak kelar-kelar, dengan setia aku menghiburnya. Memberikan kekuatan saat menghadapi dosen pembimbingnya yang memang terkenal killer.
Begitulah kami jadinya. Aku enggan jauh darinya. Dia pun selalu berusaha berada di dekatku. Hingga suatu ketika badai menerpa hubungan kami. Semuanya berawal dari jarak yang memisahkan. Jon harus bertugas menjadi tim SAR mencari para pendaki yang tersesat di Gunung Semeru. Aku tidak ikut dalam rombongan karena harus menyelesaikan Kuliah Kerja Nyata dan ditempatkan di pedalaman Desa Wonogiri, Jawa Tengah. Jadi terpisahlah aku dari Jon.
“Sudahlah, kita sama-sama memiliki tugas. Jangan terlalu memanjakan perasaan. Kamu harus tetap menjadi Diniku yang tabah, dulu dan sampai kapan pun,” hibur Jon membesarkan hatiku.
“Tapi rasanya lama sekali? Dua bulan bukan waktu yang singkat, Jon. Apa pun bisa terjadi dan aku tak mau sesuatu yang buruk menimpa dirimu. Kamu bisa mengundurkan diri,
“Hei sejak kapan kamu menjadi egois? Menjadi anggota mapala harus siap dengan segala risiko. Itu pilihan kita
Lalu, digenggamnya tanganku. Kehangatan yang menjalar ke tubuhku perlahan meluruhkan kekhawatiranku.
Akhirnya, dengan setengah hati kulepas kepergiannya. Aku pun segera menuju desa di ujung selatan Wonogiri, di mana aku ditugaskan. Aku sibuk dengan segala aktivitas KKN bersama mahasiswa lainnya. Berbaur dengan penduduk desa dan tinggal di pemukiman yang jauh dari perkotaan. Tak ada listrik, tak ada telepon, bahkan tak ada sinyal handphone. Aku pun tidak bisa berkomunikasi dengan Jon.
Aku hanya bisa menyimpan setiap kerinduan yang datang menyergapku. Mengumpulkannya untuk kemudian kupersembahkan pada laki-laki yang selalu ada di hatiku.
***
Hingga suatu hari di tengah terik matahari yang panas.
“Kamu harus kembali ke Solo. Jon mengalami kecelakaan dan sekarang dirawat di rumah sakit. Kondisinya cukup buruk.” Ray, teman mapalaku datang membawa kabar yang mengejutkanku.
Aku terdiam, syok. Hatiku tergoncang hingga tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Aku juga masih tetap membisu ketika Ray membimbingku masuk mobil menuju ke rumah sakit tempat Jon dirawat.
Aku tak menyadari perjalanan yang kutempuh. Tiba-tiba saja langkahku terhenti di depan tubuh yang terbujur di ranjang tempat tidur. Kedua kaki dan tangannya dibalut perban putih. Bekas bercak darah masih terlihat di beberapa bagian tubuhnya. Mata yang biasa menatap tajam ke arahku kini terkatup rapat. Tak bergeming.
Air mata berjatuhan di pipiku. Aku biarkan. Aku tak ingin menyekanya. Aku hanya ingin memandangi wajah yang sudah lama tak kusentuh. Aku hanya ingin di dekatnya. Menungguinya hingga mata tajam itu kembali menatapku. Menungguinya hingga bibir itu berucap rindu padaku. Aku di sini, Jon! Jeritku dalam hati.
“Saat mengambil tubuh pendaki yang terjatuh di jurang, Jon tergelincir karena hujan cukup deras. Semua pendaki yang tersesat selamat, tapi Jon malah yang gantian kecelakaan,” terang Ray membuyarkan pandanganku yang sudah mulai buram oleh air mata.
“Sekarang dia masih koma. Kita berdoa saja,” ajak Ray sambil menepuk pundakku seolah memberi kekuatan. Pendarahan hebat di otak Jon membuat syaraf-syaraf tubuhnya tidak bisa berfungsi.
Hanya Tuhan yang bisa membangunkan tubuh kekasihku kini. Aku pun segera menuju ke musala bersimpuh di hadapan-Nya. Sebab, aku belum ingin kehilangan kekasihku. Cinta kami masih kuat. Belum puas rasanya melewati kebersamaan itu.
Beri aku kesempatan membahagiakannya, Tuhan! Dan seribu pinta pun aku panjatkan. Aku yakin Tuhan mendengar.
“Din, orang tua Jon datang dari
Kuhampiri seorang wanita yang tengah duduk di sofa.
“Oh, kamu yang namanya Dini. Jon sudah cerita banyak tentang kamu,” tegur mamanya Jon saat berkenalan denganku. Kesedihan di wajahnya tidak bisa menyembunyikan gurat kecantikan pada parasnya. Garis wajahnya mirip sekali dengan Jon.
“Iya, Tante,” ucapku sambil menjabat kedua tangannya yang lembut.
“Jon selalu kurang perhitungan, termasuk keselamatannya sendiri. Memang sih menolong itu adalah kebaikan, tapi bagaimana bila akhirnya justru mencelakakan dia,” katanya dengan nada penyesalan.
Aku hanya diam tak berani menjawab. Aku mengerti perasaan mamanya Jon. Ibu mana yang tidak kalut hatinya bila keselamatan anak kesayangannya terancam. Jauh-jauh dia datang dari
“Tante yang tabah ya. Mungkin ini cobaan dari Tuhan,” kata-kata menghibur keluar dari mulutku. Padahal hatiku sendiri sedang hancur.
Semalaman aku menemani mamanya Jon di rumah sakit. Kami memiliki harapan yang sama. Jon bangun dari komanya dan menemukan kami yang sedang menungguinya. Namun hingga pagi menjelang Jon masih tertidur. Juga esoknya dan esoknya lagi. Hatiku kalut dan entah sudah berapa kali air mataku tumpah.
Kesedihanku semakin bertambah tatkala mamanya Jon mengabarkan sesuatu.
“Dini, tante akan membawa Jon ke Singapura. Siapa tahu di
“
“Tante senang kamu mencintai Jon. Tapi apakah kalian sudah memikirkan kelanjutan hubungan kalian. Apalagi sebentar lagi Jon lulus kuliah. Maaf ya, kelihatannya kalian tidak mempertimbangkan perbedaan kalian. Padahal menurut tante ini adalah masalah yang prinsip,” tutur mamanya Jon.
“Maksud Tante…?” tanyaku tak mengerti.
“Kami sekeluarga menginginkan Jon mendapatkan jodoh yang seiman,” terangnya lembut, singkat tapi terdengar tegas di telingaku.
Aku tidak tahu harus berkata apa lagi.
“Tante mengerti hubungan kalian tidak main-main. Justru itu, tante harus bertindak sebelum semuanya terlalu jauh. Kalian juga harus terima kenyataan bahwa kalian tidak mungkin bersatu,” lanjut mamanya Jon segera.
“Jadi Tante menginginkan kami berpisah? Tapi Jon belum juga bangun, Tante. Apakah tidak lebih baik kita bicarakan setelah Jon sembuh,” sambarku meminta satu kesempatan. Aku yakin jika Jon sadar pasti dia akan menentang larangan mamanya. Aku hafal betul watak Jon yang keras dengan pendiriannya. Dan aku yakin sekali Jon tidak akan menyerah memperjuangkan cinta kami.
“Justru karena Jon belum sadar maka masalah ini tante bicarakan. Tante juga tahu bagaimana perangai Jon yang keras. Jika Jon sudah di Singapura dan melanjutkan kuliahnya di
Agaknya mamanya Jon serius dengan niatnya ini dan aku tak mampu membantahnya. Ternyata, firasat tidak enak yang kurasakan terbukti.
Kutatap dengan sedih tubuh kekasihku yang masih diam tak bergerak. Aku berharap dia bangun dan menentang keinganan mamanya. Tapi Jon tetap tertidur dan aku hanya bisa menangis lagi. Aku masih berharap untuk melihat dia tersadar, meski untuk yang terakhir kalinya.
Sebelah hatiku terbang bersama kepergian Jon. Selama ini aku dan Jon tidak menyadari bahwa kami memiliki perbedaan. Lebih tepatnya kami tidak menganggap perbedaan di antara kami menjadi penghalang cinta kami. Aku dan Jon tidak pernah mempermasalahkan itu.
Ternyata takdir menunjukkan jalannya. Kami pun harus berpisah, tanpa sempat berkata-kata. Jon terbang ke Singapura, aku pun kembali di desa menyelesaikan tugas KKN-ku.
Jangan ditanya bagaimana perasaanku. Hampir tiap malam kuhabiskan dengan menangis. Siang hari kularikan kesedihanku dengan berbagai kesibukan dengan penduduk desa. Satu bulan terasa lama sekali. Aku ingin segera kembali ke Solo, mencari kabar tentang Jon.
***
Kini, aku sudah berdiri di sini, memandangi dinding panjat yang menjadi saksi pertemuanku dengan Jon. Satu bulan yang telah berlalu ternyata tak mampu menghapuskan kerinduanku kepada Jon. Jon, dimanakah kamu sekarang? Tahukah kamu, aku sudah menyelesaikan KKN-ku. Aku akan kuliah lagi, tapi tanpa kamu yang setia menungguku, tanpa kamu yang siap mendampingiku kemana kupergi. Ah, pasti sepi rasanya kampus ini.
“Kamu tak usah ragu-ragu melangkah. Jadilah perempuan yang kuat,” sebuah suara membuyarkan lamunanku. Suara yang tidak asing di telingaku. Buru-buru kuputar tubuhku dan betapa kagetnya aku melihat sosok di hadapanku.
“Jooonnn …,” jeritku tertahan.
“Dari tadi aku memperhatikan kamu. Sengaja kubiarkan karena aku tidak mau mengganggu lamunanmu,” jelas laki-laki dengan tatapannya yang lembut. Aku juga menangkap semburat kosong pada tatapannya. Sedihkan dia?
“Apa kabar?” tanyanya hangat seolah tidak pernah terjadi sesuatu di antara kami.
“Seperti yang kau lihat. Bagaimana keadaanmu? Mengapa tidak pernah memberiku kabar, Jon?” tanyaku bergetar. Sungguh aku tidak menyangka pertemuan ini.
Aku belum mampu mengendalikan perasaanku. Aku benar-benar terkejut dia hadir di hadapanku. Aku benar-benar tak menyangkanya. Bagaimana Jon bisa tiba-tiba ada di hadapanku?
“Kau baru pulang dari desa,
“Aku sengaja ke kampus dulu karena ingin mencari kabar tentangmu. Tapi ternyata di kampus sepi, tidak ada satu pun anak-anak kampus. Kapan kau tiba di Solo? Mengapa tidak pernah mengirim kabar? Mengapa kamu tidak pernah memberi penjelasan tentang kepergianmu? Atau setidaknya mengapa kamu tidak mengirimkan sebaris kalimat perpisahan? Apakah hubungan yang pernah kita jalani tidak ada artinya? Apakah …,” suaraku tertahan oleh sesak napas menahan tangis.
Aku ingin ungkapkan semua yang ada di dada. Namun, tak mampu aku meneruskan kalimatku. Tangisku pecah. Kesedihanku yang selama ini kupendam seolah tumpah di hadapannya. Antara sedih, kecewa, dan bahagia karena aku bisa melihat sosok yang selalu melekat di hatiku.
Aku terduduk berlutut. Kubenamkan wajahku dalam dua tanganku. Aku tak mampu menatap laki-laki di hadapanku. Usapan lembut tangan Jon tidak juga meredakan tangisku. Justru semakin membuat dadaku terguncang. Aku masih ingat usapan lembut penuh kasih ini. Mengapa masih seperti dulu?
“Din, jangan bersedih. Kamu dan aku sudah menemukan jalan hidup sendiri-sendiri. Aku akan bahagia bila melihat kamu bahagia. Tidak usah disesali apa yang sudah terjadi di antara kita. Semua sudah takdir. Bukan keinginan kita,
“Tapi, kenapa kamu tidak pernah menghubungi aku?” kuulang satu pertanyaanku. Kutatap wajahnya yang kini berada di depan wajahku.
“Situasinya tidak memungkinkan. Tidak ada yang salah di antara kita,” ujarnya sambil membimbingku duduk di bangku.
“Tapi ….”
“Husss … sudahlah!” ujar Jon sambil meletakkan jari telunjuknya di bibirku. “Lebih baik kita tidak lagi membicarakan peristiwa lalu. Hanya akan menimbulkan rasa penyesalan. Mendingan kita bicarakan yang lain. Misalnya tentang pengalaman KKN-mu,” ucap Jon sambil tersenyum.
Jon, masih seperti dulu. Tenang dan bersahaja. Berada di sampingnya, seolah mendapatkan ketenangan di hati. Aku seolah lupa dengan peristiwa yang membuat aku dan Jon berpisah. Aku sibuk bercerita tentang kegiatan-kegiatan selama di desa. Begitu juga Jon dengan pengalamannya menyelamatkan pecinta alam yang tersesat. Aku yang lebih banyak bercerita, Jon lebih banyak mendengarkan. Seperti dulu.
“Aku ke sini untuk menuntaskan sisa perasaanku yang masih tersimpan. Tentang kita. Aku tidak mau terbelenggu oleh kenangan kita. Aku ingin memulai babak baru dalam hidupku jika memang cinta ini tidak bisa diteruskan,” ungkapku merasa bersalah.
“Kau tidak perlu merasa tidak enak hati begitu. Kita memiliki jalan hidup sendiri-sendiri. Kamu tetap di hatiku kok, meski dunia kita berbeda …,” lerai Jon yang setengah tak kumengerti.
Aku hanya diam. Tak mampu lagi berkata. Bibirku seolah terkunci oleh rasa yang berkecamuk di hatiku. Oh andaikan saja …
“Din, sudah hampir malam, sebaiknya kau kuantar,” Jon membuyarkan pikiranku.
Kami pun beranjak meninggalkan pelataran dinding panjat yang menjadi saksi bisu pertemuan kami. Di sinilah aku menemukan cinta pertamaku dan di sini pula aku harus melepaskannya.
Jon hanya diam membiarkanku mematung sejenak. Lalu, digenggamnya tanganku sambil membimbingku pergi. Tangan itu masih tetap kokoh, hanya tidak sehangat dulu, terasa dingin …
Sesampainya di pintu rumah kosku, Jon langsung berpamitan. Dia hanya mengucapkan sebuah kalimat, tapi aku menangkapnya sebagai sebuah pesan.
“Jaga dirimu baik-baik. Aku suka kamu apadanya. Jika kamu ingin mengingat masa-masa indah yang telah kita lewati, datanglah ke dinding panjat, aku bisa melihatmu. Tapi lupakan aku, seperti aku sudah tidak ada lagi,” ucapnya sebelum pergi meninggalkanku.
“Tapi Jon, kita akan bertemu lagi
Jon hanya tersenyum dan berbalik meneruskan langkahnya. Kupandangi punggung laki-laki yang kucintai itu hingga menghilang di tikungan jalan.
***
Suara ketukan pintu membangunkan aku yang masih terlelap dalam tidur. Setelah perjumpaanku dengan Jon, serasa ada kelegaan dalam relung hatiku. Tidurku tidak lagi dihantui oleh rasa penasaran tentang keberadaan Jon.
Kuseret langkahku menuju pintu.
“Mbak Din bangun dong!” teriak Arlin.
Di balik pintu aku melihat sosok gadis cantik tersenyum riang.
“Pulang dari desa bukannya cerita dulu pengalaman di
Aku dan Arlin memang berkawan dekat. Selain satu kos, kami juga satu kampus. Kami beda satu tingkat. Seperti diriku, Arlin juga menyukai kegiatan alam. Dia sering kali menjadi tempatku mencurahkan isi hatiku. Termasuk kisah cintaku dengan Jon.
“Kemarin aku langsung ke kampus. Aku ke dinding panjat,” ucapku lirih.
Alis Arlin yang hitam lebat langsung berkernyit.
“Ngapain, Mbak? Di
Aku hanya tersenyum sambil mengangguk.
“Aku bernostalgia di dinding panjat. Dan kau tahu apa yang kutemukan di
“Aku bertemu dengan Jon. Akhirnya, kerinduanku dan segala perasaan yang menggangguku selama ini terbalas sudah. Memang sih kita nggak mungkin bersatu, tapi setidaknya ada pertemuan sebelum kita berpisah. Besok dia balik ke Singapura,” tuturku mengisahkan pertemuanku dengan Jon.
“Tapi, Mbak …,” ucap Arlin yang buru-buru aku potong.
“Jon masih seperti dulu ya. Seperti yang ada di bayanganku selama ini. Kami ngobrol banyak. Tadi malam dia nganterin sampai pintu kamar. Dia minta aku untuk melupakan dia. Katanya, anggap seperti dia sudah tidak ada lagi,” paparku kepada Arlin yang masih bengong.
“Tunggu … tunggu … Tadi malam Mbak Din ketemu dan berbincang dengan Jon. Tapi itu tidak mungkin, Mbak! Atau Mbak Din cuma mimpi kali!” Arlin bangun dari tempat tidur dan menghampiriku.
“Suer, ngapain bohong,” tandasku sambil mengacungkan kedua jariku untuk meyakinkan Arlin.
“Mbak, dua hari yang lalu aku dan teman-teman di kampus mendapat kabar dari Singapura, bahwa Jon sudah meninggal dunia. Sejak kecelakaan itu dia tidak bangun-bangun lagi. Dia sempat koma selama satu bulan. Aku menunggu Mbak Din pulang dari desa untuk menyampaikan kabar ini. Aku takut … Mbak … Mbak ….”
Suara Arlin semakin sayup dan lama-lama tidak terdengar. Tiba-tiba, kepalaku pening, sekelilingku serasa berputar-putar dan akhirnya semuanya menjadi gelap.
******
(kesamaan nama hanya kebetulan saja loh J)
Diposting oleh
jarod
di
22.24
0
komentar
Selasa, 11 Desember 2007
Ini dia anggota MFP tecantikk...shita pramika sari
nama panjang saya adalah shita pramika sari tapi cukup dipanggil dengan shita.
sebenarnya saya lahir pada tanggal 10 november 1988 dicilacap tapi karena ayah saya sangat cinta dengan kota sragen jadi akta kelahiran saya disragen namun saya dari kecil tinggal di Ciledug yaitu diperbatasan antara Jakarta dan Tangerang namun baru kali ini saya tinggal di Solo sebuah kota yang sangat berbudaya. disini saya dikost dibelakang kampus UNS. saya berzodiak Scorpio, dalam asmara saya merupakan orang yang paling setia.
saya sangat hobby hiking, mountenering, climbing, listening music, baca buku,baca koran, nonton, jalan-jalan dan masih banyak lagi.
saya sangat suka dengan hal-hal yang berbau kepecinta alam, apalagi kini Bumi kita telah rusak seharusnya kita semua menjaga agar Bumi kita tetap lestari.
meskipun saya terlihat seperti orang yang santai, humoris dsb namun terlepas dari itu semua sebenarnya saya adalah orang yang bertanggung jawab dan sangat berprinsip.
terbukti dari setiap organisasi yang saya jalani meskipun begitu padat dan banyaknya tugas dari mata kuliah dan kesibukan lainnya alhamdulilah saya tidak pernah melupakan kodrat saya sebagai manusia kepada pencipta. itu semua adalah "challenge" bagi saya.
Saya sudah terbiasa dengan kesibukan bahkan seringkali setiap liburan saya pulang kerumah yaitu di Ciledug, saya cepat bosan dirumah saking dirumah tidak ada kesibukan karena di Solo saya sudah terbiasa sibuk.
Saya adalah alumni:
- TK Puspita bunda
- SDN Larangan selatan 02
- SLTPN 11 Tangerang
- SMAN 3 Tangerang
Seumur hidup saya pernah mengikuti organisasi:
- Beksi (suatu organisasi beladiri)
- OSIS SLTPN 11 Tangerang.
- Paskibra SLTP 11 Tangerang
- Pecinta alam Columba Livia (SMAN 3 Tangerang)
- Karang Taruna rt 004/o7 lar-sel
Saya juga pernah mengikuti kursus yaitu:
- kursus bahasa inggris di New concept
- kursus bahasa inggris di Star Light
- kursus bahasa Jerman
http://shita06.blogspot.com/
Diposting oleh
jarod
di
20.28
0
komentar
Arti MAHAFISIPPA buat Andy
Memang disinilah hidupku
Aku tak pernah bisa membencimu
Hati dan pikiran tak pernah lepas darimu
Aku ingin buatmu besar
Filosofi dan jatidiri kudapat darimu
Ingin ku terbang bersamamu
Sehidup semati
Inikah takdir kita sayang?
Penuhi takdir dan mimpi bersama
Aku disampingmu...selalu
http://bonchu13.blogs.friendster.com/andys_blog_rocks/
Diposting oleh
jarod
di
20.22
0
komentar
Mahafisippa Adakan Donor Darah
Dengan tema "Donor Darah On Campus", Unit Kegiatan Mahasiswa FISIP Pencinta Alam (MAHAFISIPPA) UNS mengadakan aksi donor darah bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Surakarta pada hari Rabu, 5 September 2007, pukul 09.00 - selesai bertempat di lobby gedung 1 lantai 1 FISIP UNS.
Kegiatan ini selain merupakan salah satu program kerja rutin dari Mahafisippa, juga menggugah kepedulian civitas akademik FISIP tentang pentingnya donor darah karena setetes darah kita ibarat nyawa bagi yang membutuhkan.
Maryani
Diposting oleh
jarod
di
20.16
0
komentar
Apa itu Mahafisippa
4 Maret 1984, tepat pukul 22.00 WIB, bertempat di Deles, Klaten MAHAFISIPPA lahir.
Sebagai organisasi MAHAFISIPPA (MFP) memiliki ciri khusus yang ?tidak dimiliki oleh organisasi lain, yaitu sebuah lambang yang berbentuk Burung Elang dalam Segitiga Sama Sisi. Burung Elang, yang mempunyai makna penyebar benih-benih kehidupan, sekaligus sebagai simbol kebebasan yang daya jelajahnya jauh. Sedangkan Segitiga Sama Sisi, mencerminkan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Jadi symbol tersebut merupakan pengejawantahan dari manusia-manusia MAHAFISIPPA dalam pengabdiannya sebagai civitas akademika dan masyarakat luas pada urnumnya, dapat memberi arti positif bagi pemerhati atau siapa saja yang mengikuti perkembangan MAHAFISIPPA.
Warna Pink sebagai dasar bendera MFP mencerminkan warna FISIP. Yang berarti bahwa manusia MFP ,tidak hanya mempunyai kewajiban dan tanggung jawab kepada organisasi saja, tetapi yang tidak kalah penting adalah terhadap FISIP.
Pembentukan system keorganisasian MFP yang kuat dan khas bagi pengembangan anggota dan organisasi, menghasilkan budaya organisasi yang mengutamakan peran komunikasi informal serta menitikberatkan pencapaian target dan tujuan pada perencanaan dan proses.
Mewariskan tradisi system sel dalam interaksi internal, evaluasi-briefmg serta pendekatan informal interpersonal yang menjadi andalan organisasi, terbukti secara empiris sebagai salah satu kekuatan penentu bagi kesuksesan setiap kegiatan yang diselenggarakan hingga saat ini.
Diposting oleh
jarod
di
20.14
0
komentar
Folber, Sang Ketua MFP Periode 2000 menyapa...
Iseng, aku buka google di internet cari kata mahafisippa. Eh, ketemu blog-nya Atiek si None Blonde. Yang membuat antusias, ada foto grombolan mfp sedang mejeng (sayaada di tengah-tengahnya) dengan seragamnya barunya.
Saya kok malah lupa ya kapan tuh foto diambil, mengapa diriku ada di tengah kerumunan adik-adik tercinta itu? What ever lah, yang penting fotonya aku ambil dan aku simpan untuk dokumen pribadi.
Memang, akhir-akhir ini aku getol mengumpulkan foto-foto waktu muda dulu (cuih…kayak udah tua aja, pdhl masih 20-an tahun loh hehehe…). Ini penting, supaya kalau sudah tua (renta maksudnya) ntar, ada sesuatu yang bisa dikenang. Untuk yang satu ini, Andru si cewek Magelang sdh kukontak dan dijawab oke.
Perempuan besi ini (sebutan orang-orang sih) ternyata memiliki foto dokumentasi pribadi yang di dalamnya ada diriku juga. “Sak ndayak Bang,” tulisnya dalam jawaban di FS-ku. Itu menggambarkan betapa dia menyimpan banyak fotoku, jangan-jangan Andru salah satu penggemarku dulu?? Whuekk cuih…! (ini kata Andru kalau baca tulisan ini) Btw, thanks ya Ndru dan thanks juga Mpok Atiek! Semoga kalian cepat kawin, eh salah menikah!
Diposting oleh
jarod
di
20.03
1 komentar
